Tips

Tulisan Ramah Edit

Tulisan yang ramah edit adalah salah satu tulisan yang pasti disukai editor. Selain akan lebih nyaman di bacanya, juga akan lebih memudahkan jika menemukan kesalahan pada kata, kalimat, atau tanda baca. Tulisan yang ramah edit, tidak akan terjadi begitu saja, pasti ada proses yang harus dilalui penulis, sebut saja “jam terbang” seorang penulis biasanya memengaruhi juga akan hal ini. Tetapi, bukan berarti yang baru belajar menulis tidak bisa membuat tulisan yang ramah edit, ya. Tentu saja bisa, sangat bisa malah. Apa saja sih biasanya yang ditemui “kesalahan” edit ketika di edit editor? Bagaimana caranya supaya bisa meminimalisir kesalahan penulisan? Berikut beberapa diantaranya, berdasarakan pengalamanku ya, kalau teman-teman menemukan atau memiliki poin lain, bisa juga ditambahkan dalam catatannya.

Proses Penulisan

Setiap penulis ketika menulis sebuah naskah, tentu saja akan fokus pada apa yang akan dituliskannya. Tugas penulis tidak hanya sekadar mengetik saja ide yang ada di dalam kepalanya, tetapi juga ada yang harus melakukan riset terlebih dahulu, dan bahkan perlu ya membaca beberapa referensi sebelum memulai tulisannya.

Jadi wajar kalau ketika selesai menulis dan di setor editor akan ada beberapa kesalahan dalam penulisan, ya karena tugas penulis memang menulis bukan mengecek naskah. Tetapi, akan sangat baik jika setelah proses penulisan, penulis kembali mengecek kembali tulisannya, sambil memperbaiki kesalahan yang dilihatnya, seperti typo, tanda baca, susunan kalimat, dan lainnya.

Terutama bagi yang menulis nonfiksi, yang perlu menggunakan sumber atau bahan dari tulisan yang sudah ada misalnya, kadang ada penulis yang hanya memindahkan tulisan dari sumbernya itu tanpa di bahasa ulangkan olehnya. Sehingga hal tersebut dapat menyebabkan naskahnya terdeteksi plagiasi. “Kan sudah disebutkan bu sumbernya, nggak apa dong.” Ada beberapa hal yang boleh untuk di copas seperti rumus atau teori pendapat seorang ahli, tetapi ada beberapa hal juga yang nggak bisa asal copas, harus di bahasa ulangkan, menggunakan bahasa kita sendiri.

Kesalahan Edit

Kesalahan penulisan akan selalu ditemui, biasanya apa aja sih kesalahannya ketika kita menulis? Berikut adalah beberapa diantaranya, yang saya yakin semua penulis pasti pernah melakukannya atau menemui kesalahan ini di tulisannya:

  • Typo, kesalahan penulisan/pengetikan atau yang kini dikenal dengan sebutan typo, adalah salah satu kesalahan yang biasanya dilakukan penulis. Tulisannya ditik apa, maksudnya apa. Hanya saja, ada yang memang typonya banyak. Ada juga yang minim typo. Kesalahan ini tentu saja bisa diminimalisir, bagamana caranya? Next di poin meminimalisir kesalaahan edit, kita bahas.
  • Mengulang kalimat yang sama. Sebagai seorang penulis salah satu yang membuat kita senang adalah ketika bisa mendapatkan banyak kata atau kalimat dalam tulisan kita, iya atau iya? Hanya saja kadang kuantitas tulisan banyak, tapi suka lupa apakah kalimat atau paragrap tersebut berisi atau tidak. Atau kadang suka terjebak dengan kalimat yang sebelumnya sudah pernah ditulis, alias diulang kembali. Nah, pengulangan seperti ini adalah salah satu yang juga menjadi hal dominan ketika mengecek kesalahan edit.
  • Penulisan kata sapaan, terdengar ringan, namun sering kali terlupakan. Kata sapaan baik kepada pembaca atau sapaan dalam percakapan langsung dalam naskahnya. Penulisan kata sapaan langsung ini sering kali lupa untuk menggunakan huruf kapital.
  • Penggunaaan tanda baca. Tanda baca umumnya yang sering digunakan adalah titik, koma, seru, tanda tanya, dan tanda kutif. Biasanya karena keasyikan menulis, dalam satu kalimat atau paragrap, tidak menggunakan tanda koma atau titik. Atau menggunakan, tapi penggalannya rancu, yang seharusnya belum titik sudah titik atau yang seharusnya ada koma, tidak ada koma, sehingga memengaruhi ketika proses pembacaan naskah, tidak hanya sampai menghambat pembacaan naskah, bisa juga menjadi salah pengertian.
  • Copy paste atau mengutip kalimat dari sumber lain tanpa di bahasa ulangkan, boleh nggak? Ya, tentu saja tidak boleh. Itu namanya plagiasi. Nah, kesalahan ini yang tidak bisa ditolerir. Naskah sebelum memasuki edit biasanya masuk terlebih dahulu proses cek plagiasme. Jika terdeteksi banyak, maka naskah akan dikembalikan lagi kepada penulis.
  • Informasi sesuai dengan kenyataannya. Untuk beberapa jenis naskah, terutama naskah non fiksi, biasanya ada informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kenyataannya. Harusnya sesuai dengan kenyataan. Agar pembaca dapat memahaminya dengan baik, informasi tersebut bisa jadi bahan informasi bagi yang belum tahu, dan bisa jadi daya ingat jika pembaca sudah mengetahuinya. Misalnya, menuliskan oleh-oleh khas Bandung, ada jenis makanan jajanan dengan nama batagor, baso tahu, cireng, cimol, dan comro. Jangan di ganti dengan makanan yang bukan khas Bandung. Atau ketika menuliskan alamat jalan, sebaiknya sesuai dengan kenyataannya, sehingga jika orang ingin mengetahuinya secara langsung dapat mendatangi alamat tersebut.
  • Menggunakan kata baku dan tidak baku. Tidak semua penulis dan pembaca “ngeh” dengan kata baku atau tidak, ada banyak kata yang sebenarnya kurang familiar jika dibakukan atau mengikuti yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, ada beberapa penulis yang sudah “ngeh” dengan hal ini. Ini salah satu hal yang sering ditemui editor.
  • Konsisten dalam penulisan. Hal berikutnya yang juga sering ditemui dalam satu naskah adalah kekonsistenan dalam penulisan. “Perlu ya bu?” bukan perlu lagi, tapi penting, seperti panggilan untuk kata sapaan, kalau di awal sudah menggunakan kamu, ya jangan ada kata Anda, Kalian, dan lainnya. Cukup satu kata saja.
  • Pilih foto yang memiliki resolusi yang tinggi. Jika naskah yang di tulis harus dilengkapi gambar/foto, maka pilihlah yang memiliki resolusi tinggi, supaya tidak pecah ketika masuk proses layout. Hal ini terkadang jadi salah satu yang juga sering ditemui editor. Gambar/ foto yang ada watermarknya, tentu saja tidak boleh digunakan ya, lalu yang resolusinya rendah, sudah pasti akan diminta untuk menggantinya dengan gambar/foto lain.
  • Menggunakan bahasa yang baik dengan benar. Bahasa yang baik dengan benar itu bukan berarti harus baku dan kaku ya. Bahasa yang memang sesuai dengan isi naskahnya. Bahasa yang sesuai dengan target pembacanya, agar pembaca mudah membaca dan memahami isi bukunya. Jika naskah yang ditulis untuk buku umum, maka bahasa yang ringan, singkat dan jelas, serta mudah dimengerti akan lebih menyenangkan untuk di baca. Tidak dengan istilah yang rumit atau sulit untuk di mengerti.

Meminimalisir Kesalahan Edit

Untuk meminimalisir kesalahan edit, setelah naskah selesai di tulis, penulis sebaiknya membaca kembali tulisannya, sambil membaca diperbaiki juga typo atau informasi yang kurang tepat. Lalu, jika ada informasi hasil dari googling, sebaiknya penulis membahasa ulangkannya, dengan menggunakan bahasa sendiri, agar tidak terdeteksi plagiasi. Hal ini biasanya yang sering kali luput dari penulis.

Tulisan Ramah Edit

Tulisan ramah edit, disukai editor, karena selain akan memudahkan proses edit juga akan mempercepat waktu proses edit. Biasanya waktu proses edit lama dalam hal bulak-balik naskah revisi, penulis-editor. Yang biasanya harus direvisi sebagian besarnya adalah:

  • Konfirmasi kesalahan typo yang sulit dibaca maksudnya
  • Penyusunan kalimat yang kurang efektif
  • Paragraf pengulangan yang menjadikan editor harus menghapus dan meminta tambahan text kepada penulis
  • Konfirmasi informasi yang dimaksud penulis tidak jelas
  • Membahasa ulangkan kembali kalimat/paragrap yang terdeteksi plagiasi.

Itulah beberapa hal yang sering ditemui editor ketika proses pengeditan naskah dan harus dibetulkan. Bagi yang sedang menulis naskah, silakan bisa mencoba beberapa hal di atas untuk mengurangi kesalahan edit naskah. Selamat mencoba 😊

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *