Cerita Bubu

Mengenali Kelebihan Diri sendiri

Hai, Bun! Mau cerita nih. Sadar dengan kemampuan diri sendiri atau belum? Sebenarnya sih bukan hal yang perlu dipertanyakan ya ketika kita sudah menjadi ibu-ibu, harusnya hal ini tuh sudah disadari sejak kecil. Jadi, ketika sudah besar, menikah, dan menjadi ibu, sudah paham, ini kelebihan aku, sehingga ketika mendapati anak tidak bisa ini, tidak bisa itu, pasti ada sesuatu yang dia bisa yang mungkin kita belum mengetahuinya. Sehingga kita bisa berdamai dengan diri kita dan dirinya, bisa bekerjasama untuk menstimulus kelebihannya dia itu apa.  Atau bisa menerima ketika orang lain bisa melakukan hal itu, sedang kita tidak bisa. Tapi, tidak menjadi insecure, karena kita bisa hal ini, yang orang lain belum tentu bisa.

Setiap kita ini dianugerahi kelebihan yang berbeda oleh Allah. Bedanya, ada yang menyadarinya sedari dini atau mungkin agak telat menyadarinya. Telat bukan berarti nggak bisa dikembangkan ya, tidak ada kata terlambat untuk mengembangkan diri. Menurut aku pribadi, kita nggak harus juga sih bisa melakukan banyak hal, karena itu tadi, setiap dari kita berbeda kemampuannya. Jangan fokus dengan apa yang kita tidak bisa, tapi fokus dengan apa yang kita bisa. Menurut aku yang ibu rumah tangga, yang alhamdulillah, aku percaya diri dengan kemampuan aku, aku bisa menulis, bukan merasa pintar, hanya merasa bisa. Mungkin aku salah satu yang menyadari sedari kecil dan mendapatkan kesenangan dari menyadari ini. Contohnya, ketika teman aku pintar menggambar, aku tetap percaya diri, karena teman aku itu belum tentu bisa menuliskan kata-kata sebanyak aku.

Bahkan ketika sudah menjadi ibu rumah tangga full, tidak lagi bekerja, pertemanan menjadi semakin terbatas. Aku masih percaya diri, bahwa aku masih bisa menulis. Tugas aku saat itu cuma mencari tahu, apa yang harus aku lakukan dengan kebisaan aku ini. Ya, mungkin kalau orang yang bisa memasak bisa kursus memasak agar lebih berkembang, lalu bisa jual masakannya kalau ingin dibisniskan. Aku tahu, aku bisa menulis artikel atau buku. Tapi, bagaimana mengembangkannya, supaya aku lebih percaya diri, bahwa apa yang aku bisa ini bisa bermanfaat untuk diri aku sendiri, syukur-syukur suatu waktu bisa bermanfaat untuk orang lain juga. Bukan ambisius yah Bun, itu salah satu bentuk syukur menurut aku, bersyukur dengan apa yang Allah beri kepada aku, dan aku ingin memanfaatkannya dengan baik.

Pernah nggak Bun, ada di situasi dengan teman dan ada obrolan seperti ini, “ih asyik yah jadi kamu, bisa ini, itu.” Padahal dia jago masak yang kita nggak bisa sejago dia. Atau seperti ini, “Kok bisa yah dia begitu, aku mah baru mengerjakan ini aja udah begini.” Padahal dia pinter mendesain ruangan, menjahit, menggambar. Ada juga yang pintar memasak, pintar bicara depan umum, pinter bergaul, pintar mengaji, pinter jualan. Tapi, masih merasa kalau dia itu tidak bisa apa-apa. Merasa tidak ada yang bisa di banggakan. Karena merasa hanya sebagai ibu rumah tangga, yang banyak di rumah.

Kadang kita tuh sering kali fokus dengan kelebihan orang lain, tapi sering lupa dengan kelebihan sendiri. Ada yang masih suka gitu gak Bun? Jadinya, kadang sering lupa bahwa kelebihan yang kita miliki itu harus masuk ke dalam list syukur. Dan harus yakin juga bahwa Allah itu pasti memberi kelebihan yang berbeda pada setiap orang, bedanya mungkin ya itu, ada yang menyadarinya ada yang belum menyadarinya.

Bun, percayalah sebagai perempuan, sebagai ibu, kita ini hebat, kita ini keren, bukan menyombongkan diri. Tapi, sedang bersyukur pada yang sudah membuat kita, karena memang kita di desain Allah sekeren ini, Bun. Sekeren kita bisa hamil selama 9 bulan, lalu melahirkan, menyusui, dan jadi teman terbaik anak kita. Bisa mandiri, ada banyak hal yang bisa perempuan atau ibu-ibu lakukan. Bisa memenej emosi kita sendiri yang sering berubah-ubah. Kita bisa menjalankan banyak peran dalam waktu yang sama, misal harus masak, sambil mengasuh anak, sambil berjualan online, sambil bersih-bersih, atau sambil ini dan itu. Kita juga bisa menghandle negara kecil kita, rumah. Walaupun dengan susah payah kita membereskannya, merapikannya, dan tidak bertahan lama bisa kembali ke bentuk semula berantakan, tapi tidak pernah membuat kita mengeluh lalu tidak mau melakukan beres-beres lagi. Kita tetap menjalankan peran kita, iya kan? Sebagai ibu juga kadang kita lebih mengutamakan kepentingan anggota keluarga kita dibanding diri kita sendiri, iya nggak, Bun? Keren kan kita? Jadi, memang benar kita perlu punya waktu untuk me time, untuk berterima kasih kepada diri sendiri, dan bersyukur kepada-Nya sudah menjadikan diri yang sekarang ini. Jadi, skip untuk bilang “nggak bisa apa-apa” yah, Bun.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *